Grafologi untuk "Self Review" Melalui Tulisan Tangan


Pernah dengar grafologi? Saya sudah cukup familiar dengan istilah ini sejak aktif menjadi pekerja media belasan tahun silam. Ahli grafologi yang saya tahu juga seringkali dilibatkan dalam penentuan minat dan bakat anak. Lebih dari sepuluh tahun kemudian, saya akhirnya mencoba langsung sebagai pengguna jasa ahli grafologi, di usia yang tak muda dan bukan sedang ingin mencari minat bakat juga.


Penerima manfaat grafologi nyatanya tak kenal batas usia dan jelas membantu diri untuk self review yang sebenarnya memang dibutuhkan kapan saja dalam siklus hidup. Tentunya bukan self diagnosa yaaa, maksudnya mereview diri dibantu ahli dengan ilmu grafologi. 

Mengutip KBBI Online grafologi/gra·fo·lo·gi/ n 1 ilmu tentang aksara atau sistem tulisan; 2 ilmu suratan tangan; ilmu tentang hubungan antara watak dan tulisan tangan.

Ini cerita saya mendapatkan manfaat dari Grafologi di life over 40 bersama Certified Graphobusiness Analyst, Diana Aletheia Balienda.

Melalui pertemuan yang ajaib pada tahun 2018, saya berkenalan dengan Kak Diana di kegiatan ToT fasilitator UMKM perempuan di Jakarta yang difasilitasi Google Indonesia. Rupanya kak Diana adalah sahabat perempuan dari teman komunitas saya di Bloggercrony yang juga adalah community leader Single Moms Indonesia, kak Maureen. Singkat cerita, kami bertiga jadi berteman baik, jumpa berkala, bagi cerita dan saling menguatkan meski kesibukan kemudian membatasi pertemuan. Sesekali bertegur sapa di aplikasi pesan dan media sosial. Masing-masing kami berkiprah dan mengembangkan diri, termasuk kak Diana yang ternyata mendalami ilmu grafologi dan resmi tersertifikasi. 

Meski kami bertiga enggak banyak bercerita tapi punya grup chat isinya hanya tiga anggota saja, selalu ada momentum khusus yang mempertemukan. Salah satunya mendadak atur waktu jumpa kak Diana di kawasan Mayestik Jakarta Selatan, menjawab rasa ingin tahu tinggi tentang grafologi dan bagaimana praktiknya, pada September 2023.

Sambil bincang santai, saya mulai menulis tangan.  Kuncinya adalah tulisan tangan. Saya harus menulis dengan tangan pakai pulpen tinta di kertas putih kosong bukan kertas bergaris. Tidak penting apa yang dituliskan karena analisis grafologi bukan fokus pada isi tulisan tapi bagaimana cara menulisnya, konsistensi tulisannya, sehingga bisa jadi bahan analisis. Saya menulis cerita dalam waktu 15 menit, Alhamdulillah masih terasah keterampilannya. Meski hanya diminta selembar saja, saya bablas menulis mengalir isi pikiran. Sebenarnya semakin banyak isi tulisan akan membantu analisis lebih akurat. Sekali lagi kebutuhannya bukan isi cerita tapi bagaimana pola menulis yang menjadi alat analisis ahli grafologi. Mengenai hasil analisisnya, saya tidak bisa cerita. Kasus saya, cara saya menuliskan huruf "d" ada makna dan analisisnya terhadap karakter saya. Kecenderungan menulis ke atas atau ke bawah, konsistensinya di setiap baris menjadi bahan analisa lainnya lagi. Bahkan tekanan menulis yang akan terlihat dan terasa jika diraba di sisi belakang kertas bisa memberikan arti tersendiri. 







Banyak hal yang dapat menjadi bahan analisa dari cara kita menulis di selembar kertas. Lantas selain mendapatkan pembacaan langsung, apa hasil analisa lainnya? Ada kategori penilaian karakter kepribadianyang sebenarnya bisa dinilai dalam bentuk skoring berdasarkan analisis tulisan tangan. Namun saya tidak melanjutkan pada tahapan itu. Profesionalisme dalam pertemanan harus tetap dijaga. Jika saya punya cukup anggaran untuk itu, pasti saya akan lanjutan tahapan lebih detil lagi. 

Tak hanya itu, hasil analisis grafologi bukan hanya untuk mengenali diri saat ini namun bisa menjadi terapi lanjutan untuk memperbaiki diri. Caranya? Ya kembali dengan latihan menulis yang pada akhirnya akan membentuk karakter menjadi lebih baik lagi, jadi bukan soal benar salah melainkan menjadi upaya memperbaiki diri dengan teknik lanjutannya. 

Selain tulisan tangan, analisis grafologi paling sederhana juga bisa dilakukan dengan tanda tangan. Syukurnya tanda tangan saya cukup baik karena menuliskan nama yang terbaca jelas. Walau ada beberapa catatan sepertinya saya harus menerima apa adanya karena jika harus mengubah tanda tangan, proses administrasi akan rumit karena berurusan banyak pihak seperti bank dan lainnya.

Lantas apa pengaruhnya sangat besar sampai misal harus mengubah tanda tangan dari hasil analisis grafologi? Kembali kepada kebutuhan masing-masing jawabnya menurut saya. Namun catatan pentingnya adalah analisis grafologi ini menjadi relevan dan krusial untuk anak-anak. Selain dapat mengenali karakter dan kepribadian, sebelum mereka membubuhkan tanda tangan di KTP, rasanya tepat sekali konsultasi grafologi. 

Bagi saya, banyak manfaat analisis tulisan tangan dengan ilmu grafologi ini untuk semua usia, asalkan sudah bisa menulis ya. Bagi saya community leader yang juga memiliki mitra kerja di komunitas dan berurusan dengan sumber daya manusia, analisis ini sungguh berarti untuk mengenali karakter tim. Setidaknya terjadi mutual understanding karena ada faktor WHY di balik tulisan tangan yang membuat kita akan saling memahami satu sama lain. Selain tentunya dapat mengenali siapa cocok untuk bidang pekerjaan apa sesuai karakternya. 

Hasil analisis grafologi akan sangat membantu dalam penempatan tugas dalam tim kerja supaya hasilnya optimal. Orang yang tepat di tempat tepat. Grafologi membantu Besty dan pengurus BCN Squad Bloggercrony, setidaknya untuk saya mapping kekuatan masing-masing personanya.

Manfaat analisis grafologi sudah saya rasakan sendiri secara langsung, juga untuk tim kerja dan lebih menyenangkan lagi, kak Diana membersamai Komunitas Bloggercrony Indonesia dalam sesi kelas perkenalan di BloggerDay 2024. Beberapa peserta BloggerDay 2024 yang beruntung bisa langsung mendapatkan konseling online dan feedback-nya sangat positif. Selain itu grafologi juga terlibat dalam pelatihan SIAP KERJA DISABILITAS salah satu program CSR XL AXIATA PEDULI dengan Bloggercrony sebagai fasilitatornya. 




Analisis tulisan tangan dengan ilmu grafologi yang dibimbing ahlinya, terbukti membantu self review lebih terarah dan semoga hasilnya membawa dampak baik menakar diri dan utamanya tidak lagi sabotase diri karena selalu ada potensi diri yang masih bersembunyi. Grafologi dapat membantu membongkar diri memaksimalkan potensi untuk jadi manusia bertumbuh dan berdaya. 






Literasi Finansial Paling Kena dari Kaluna "Home Sweet Loan"


Seingat saya ada dua film Indonesia yang muatan literasi finansialnya cukup kuat, Gampang Cuan (2023) dibintangi Vino G. Bastian  dan yang terbaru Home Sweet Loan dibintangi Yunita Siregar (2024). Namun yang paling kena ke hati dan masuk di akal, HSL juaranya, dari kegigihan Kaluna si tokoh utama.

Sumpah, jadi Kaluna, buat saya enggak mudah. Bertahan bekerja kantoran setiap hari naik kendaraan umum, bawa bekal masak sendiri dari rumah (bukan dimasakin mbak atau orangtua ya), punya pekerjaan sampingan model lipstick dengan aset bibirnya yang hoki bawa cuan, dan menahan diri dari keinginan memiliki barang sekunder apalagi tersier, enggak jajan kopi setiap hari, dan masih banyak lagi penghematan lainnya.

Sosok Kaluna enggak terkesan peliit sama sekali di film HSL. Saya lupa penokohannya di buku karena saya dan suami baru ingat saat duduk di 10 menit pertama di bioskop, “Kayaknya kita punya dan dah baca bukunya deh”, kata suami.

Ternyata benar, kami sudah membaca bukunya entah kapan dan jujur agak lupa, jadi kalau ditanya sesuai enggak buku dengan filmnya, ya kami jawab sesuai aja lahhh. Sebagus itu kok film HSL yang saya pilih untuk nonton menghibur hati. Padahal, nonton HSL itu kudu siap tisu dan siap perih hati karena menyentuh kalbu sedalam itu sih. Konflik keluarga dan beban berat anak perempuan soalnya, jadi kalau yang merasa relate, bakal pedih banget sih mata selalu ada momentum yang enggak bisa banget nahan air mata mengalir hangat.



Penghematan Kaluna digambarkan dengan ciamik oleh sutradara Sabrina Rochelle Kalangie menerjemahkan kisah novel karya Almira Bastari. Fokusnya pada tujuan finansial Kaluna dengan keseharian di kantor dari sosok Kaluna yang cantik, baik, hangat, enggak kaku di lingkungan pertemanan, pekerjaan sampai keluarga. Jadi bukan karakter perempuan pekerja kantoran yang pelit karena berhemat.

Hematnya Kaluna karena latar keluarganya yang aduh, kalau saya ada di posisi yang sama persis, juga pasti berjuang keras untuk punya hunian sendiri. Kondisi keluarga Kaluna yang mendorong dirinya sebegitu hemat dan teratur keuangannya untuk bisa bayar uang muka KPR. 

Sampai di sini saya paham bagaimana besaran uang muka akan berpengaruh ke cicilan bulanan yang sesuai dengan kemampuan. Mimpi pun harus tahu diri, menutip Kaluna. Jadi saya paham, kalau gaji terbatas yang bayar uang muka yang tinggi supaya cicilannya ringan, dengan tenor paling maksimal. Ini sudah saya dan suami praktekkan saat memutuskan menjual rumah dan menggunakan dananya untuk membeli mobil pertama untuk mendukung mobilitas kami menjadi pekerja mandiri.

Berhubung saat saya menulis ini, filmnya masih ada di bioskop dan saya penganut no spill review, jadi sudah segitu aja tentang filmnya ya. Saya justru ingin lebih mengulas bagaimana film bisa jadi saluran edukasi finansial yang efektif. 

Alih-alih ikut kelas literasi finansial dengan presentase angka harus punya rumus tertentu dari jumlah uang penghasilan yang sebenarnya terbatas juga, saya lebih suka diingatkan kembali pengaturan keuangan dari film macam ini. Serupa seperti film Gampang Cuan yang klimaksnya adalah enggak ada yang namanya kelimpahan uang instan semua ada proses termasuk lewat investasi keuangan. Kalau di film Gampang Cuan literasi finansial melalui instrument investasi keuangan dijelaskan dengan sangat mudah diterima akal paling malas mikir pun. Saya makin mudah mengingat ulang bedanya reksadana, saham, deposito dan sejenisnya. Sedangkan kalau di film HSL, juaranya menabung dan menahan diri dari keinginan atau tren bahkan dari sekadar mengumpani ego dan gengsi pekerja kantoran dengan barang-barang flexing penguras penghasilan.

“Barang kamu ternyata sedikit banget ya, Dek”, kata kakak Kaluna di telpon saat memberitahukan Kaluna untuk kembal pulang, kamarnya sudah dibersihkan, dan keluarga ingin bertemu lagi sebelum masing-masing akan memisahkan diri hidup dengan keluarganya sendiri. Cukup sedikit kata dan dialog, digambarkan dengan Kaluna menangis tanpa suara dengan air mata mengalir dan rasa hangat di mata dan hati kalau saya membayangkannya. 

Pesannya jelas, Kaluna punya tabungan ratusan juta dari pengaturan keuangannya yang disiplin, demi bisa bayar uang muka rumahnya sendiri, dengan hidup sederhana di rumah orangtuanya tanpa punya banyak barang koleksi yang enggak dibutuhkan juga sebenarnya.


sumber: https://youtu.be/gcTSMnjQ0FU?feature=shared

Saya malu sejujurnya sama Kaluna. Darinya saya justru diingatkan kembali, saya sebenarnya harusnya bisa mewujudkan impian umroh misalnya, jika saja bisa punya manajemen finansial dan kegigihan kekuatan akal pikiran dan perasaan seperti Kaluna. Sayangnya saya masih belum bisa seperti Kaluna, enggak jajan kopi setiap hari, enggak pernah jalan-jalan ke Ancol atau tempat hiburan lainnya dengan alasan healing, dan kesenangan lainnya yang tidak Kaluna lakukan demi mewujudkan financial goalnya, punya ratusan juta di rekening untuk bayar uang muka KPR.

sumber: https://youtu.be/gcTSMnjQ0FU?feature=shared



Apakah Kaluna berhasil membeli rumah impian? Nonton aja dulu sana di bioskop. Saya bukan menulis review film, hanya ingin berterima kasih kepada Kaluna, kamu juara dan sungguh menampar saya sangat halus dan hangat, se-hangat air mata yang mengalir di bioskop malam itu.

Terima kasih ya, Dek Kaluna. Tapi maaf budget harian untuk kopi saya tetap Rp 25.000 pakai poin dan diskon di kedai langganan, bisa lebih murah di warkop punya sendiri. Nanti kalau sudah sesukses kamu dari usaha sendiri, budget Rp 40.000 sehari untuk jajan kopi, bisa lah ya!

 

 

 

Sinergi Pentahelix Kalahkan Kusta

Family Health

Sinergi Pentahelix Kalahkan Kusta

Indonesia jadi satu dari tiga negara tropis di dunia, dengan kasus kusta tertinggi, setelah India dan Brasil. Ini bukan prestasi untuk dipertahankan tentunya. BersamaContinue Reading >

Bertahan LDM Hanya 15 Hari Gagal Keluar Zona Nyaman

www.wawaraji.comMerawat hubungan jarak jauh, sebelum maupun setelah menikah, sungguh butuh upaya ekstra dari pihak laki-laki dan perempuan, dan rasanya hanya orang pilihan yang benar-benarContinue Reading >

Dakwah Digital Ustadzah Syarifah Halimah Alaydrus

Review

Dakwah Digital Ustadzah Syarifah Halimah Alaydrus

Kajian muslimah di ruang virtual, terutama sejak pandemi aktivitas dakwah ikut bertransformasi secara digital, tersedia dengan banyak pilihan. Namun perjalanan batin membawa saya mengikutiContinue Reading >